Sejarah Filsafat Ilmu
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Filsafat merupakan sebuah ilmu yang sangat
berpengaruh dalam kehidupan manusia. Ilmu ini menentukan bagaimana pola pikir
dan dinamika yang terjadi dalam ide yang ada. Peran manusia sangat penting
dalam proses perkembangan filsafat dari yang secara umum saja menjadi pemikiran
filsafat yang lebih luas.
Seiring berjalannya waktu tentu terdapat
perbedaan perkembangan sejarah dalam ilmu filsafat itu sendiri. Filsafat dalam
islam yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan islam kemudian filsafat barat yang
dikembangkan oleh orang barat. Mereka saling memberikan kontribusi dalam
kemajuan ilmu filsafat itu sendiri.
Dalam perkembangan filsafat islam dan
filsafat barat memiliki keterkaitan dan saling berkesinambungan. Sehingga perlu
untuk mempelajari bagaimana lahirnya filsafat islam dan filsafat barat.
Pemikiran-pemikiran kedua filsafat ini terus berkembang dari yang paling dasar
menjadi lebih spesifik, contohnya filsafat barat yang berfikir dari
kosmosentris menjadi teosentris. Dan filsafat islam yang membahas tentang ketuhanan
menjadi lebih luas pembahasannya mengenai alam dan manusia.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana sejarah lahirnya filsafat?
2.
Bagaimana sejarah perkembangan filsafat dari masa ke masa, serta siapa
tokoh-tokohnya?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Memahami sejarah lahirnya filsafat.
2.
Memahami sejarah perkembangan filsafat dari masa ke masa, serta mengetahui
tokoh-tokohnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Lahirnya Filsafat Barat
Setiap pemikiran manusia memiliki asal muasal atau sejarah
sendiri-sendiri. Pemikiran itu terus berkembang dan saling menyempurnakan dari
masa ke masa. Filsafat akan terus mengalami perkembangan sampai kapanpun. Namun
kita perlu mengetahui bagaimana filsafat tersebut dapat lahir sehingga kita mampu
mempelajarinya sampai sekarang.
Sejarah merupakan beberapa peristiwa yang terjadi di masa silam dan
memerlukan waktu yang amat panjang. Peristiwa tersebut akan dikembangkan oleh
manusia sehingga mengalami beberapa perubahan sebagai dampak dari adanya sejarah
itu sendiri. Sehingga sejarah inilah awal bagaimana segala sesuatu itu berasal
dan ada.[1]
Perkembangan filsafat tidak akan pernah lepas dari peran kebudayaan dan
peradaban Yunani. Disinilah pertamakali filsafat muncul dan berkembang.[2]
Peradaban Yunani melahirkan filusuf-filusuf hebat di masa setelahnya. Mereka
yang dahulu sangat terbelenggu atas pemikiran mitos, legenda, dan kepercayaan
kemudian menggunakan logika sedikit demi sedikit. Disinilah muncul sebuah
pemikiran yang rasional pada jamannya.
Bertrand Russell (1946), dalam bukunya History Of Western Philosophy,
mengenai munculnya filsafat di Yunani tersebut akibat kemahiran bangsa
Yunani dalam merajut dan menyempurnakan peradaban besar lainnya pada saat itu
seperti Mesir dan Mesopotamia.[3]
Peradaban Yunani memang sukses menginspirasi peradaban lain untuk bergerak dan
berubah pemikirannya menjadi lebih cerah dan membangun peradaban yang agung dan
luhur.
Dalam perkembangan pada peradaban Yunani hingga kemudian sukses
melahirkan pemikiran-pemikiran filsafat ini tidak lepas dari banyaknya
permasalahan yang muncul pada awal perkembangannya. Sebagian orang terus
menggugat dan memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis. Namun, pertanyaan ini
masih bisa dipecahkan oleh filosof barat pada zaman itu.
Adapun pertanyaan itu muncul karena ingin mengetahu alasan mengapa
filsafat lahir dan berkembang di Yunani dan kenapa tidak lahir di daerah
peradaban lain seperti Babilonia, Mesopotamia atau Mesir? Apalagi Mesir saat
itu juga tak kalah besar dibandingkan daerah lainnya. Namun pertanyaan ini
mampu dijawab secara sederhana yaitu Yunani adalah negeri yang tidak pernah
mempermasalahkan kasta, ras, sosial. Mereka menyama ratakan semuanya. Sehingga
perkembangan pemikiran begitu pesat. Dengan adanya hal tersebut kita tentu tau
bahwa Yunani merupakan salah satu contoh negeri yang dijadikan pusat atau poros
dalam ilmu filsafat. Memang jika kita lihat dari perkembangannya tentu Yunani
memang lebih pantas diberikan sebutan dengan hal demikian.
Hambatan lain muncul jauh sebelum filsafat muncul, masyarakat Yunani
masih menggantungkan diri pada mitos, legenda, kepercayaan, dan agama untuk
mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan mereka. Ketika ada
sebuah permasalahan dalam hidup, mereka selalu mengaitkan dengan pemikiran
dahulu yang lebih condong kepada sesuatu yang tidak bisa ditangkap dengan
rasional.
Kemudian pada abad ke-7 SM, di Yunani mulai berkembang suatu pendekatan
yang sama sekali berlainan di masa-masa sebelumnya, yaitu dengan pendekatan
filsafat. Bangsa Yunani mulai mencari jawaban rasional dan merenungkan
permasalahan tersebut menggunakan akal termasuk pula mengenai alam semesta.
Dari sinilah peradaban Yunani mengalami kemajuan dalam pemikirannya.
Dari yang sangat mempercayai mitos menjadi lebih berpikir secara rasional dan
berdiskusi tentang keadaan alam, dunia, dan lingkungan sekitar. Peran Logos atau
akal budi, rasio sudah mulai berperan dalam kehidupan mereka.[4]
Dari sinilah terdapat kemajuan yang ada pada peradaban Yunani, dan menjadi
kunci perkembangan filsafat di masa selanjutnya.
Kemudian dalam perkembangan filsafat Yunani ini tentu ada tokoh yang
sangat berperan di dalamnya. Dari beberapa tokoh yang ada pada masa Yunani ada
satu tokoh yang diberi gelar filsuf Yunani pertama yaitu Thales.[5]
Thales merupakan orang yang pertama kali mengungkapkan bagaimana awal dari
adanya kehidupan. Yang kemudian dari pendapat Thales inilah muncul perdebatan
hingga saat ini dan melahirkan banyak aliran dan pemikir yang sangat
berpengaruh dalam perkembangan filsafat.
Thales berpendapat bahwa intisari alam ini ialah air. Ia menganggap
bahwa air merupakan asal mula dari adanya kehidupan. Kemudian disusul oleh
pemikiran anaximandros, Anaximenes, dan pitagoras. Anaximandros menyatakan
bahwa dasar pertama alam itu ialah zat yang tak tertentu sifat-sifatnya, yang
dinamakan to apeiron.
Anaximenes kemudian berbeda pendapat dengan filosof sebelumnya, ia
menyebutkan bahwa intisari alam adalah udara. Ia menyebutkan hal demikian
karena menurutnya udara yang meliputi alam dan udara pula yang menjadi dasar
hidup bagi manusia untuk bernafas.
Phytagoras pun juga menanggapi perbedaan pendapat disini dengan membuat
pernyataan pendapat bahwa dasar dari segala sesuatu ialah bilangan. Orang yang
tahu dan dan mengerti betul akan bilangan, maka ia akan mengetahui sesuatu.
Pemikiran pitagoras tidak hanya mencakup alam saja tetapi juga mengenai jiwa
manusia. Menurutnya manusia adalah sesuatu yang non jasmani. Jika manusia itu
mati maka yang hilang atau yang mati adalah jiwanya. Oleh karena itu ia
menganggap bahwa jiwa akan terkurung di dalam badan manusia. Disinilah manusia
harusnya membersihkan jiwanya yang kemudian dari jiwa yang bersih akan muncul
pengetahuan yang baik. Dengan demikian ada hubungan erat antara tingkah laku
dan pengetahuan.
Dalam perbedaan pendapat di atas merupakan beberapa contoh yang ada
dalam Yunani kuno. Peristiwa munculnya filsafat di Yunani terbilang sebagai
sebuah peristiwa yang unik dan ajaib (The Greek Miracle). Hal itu
dipengaruhi oleh banyak faktor yang mendahului dan seakan-akan mempersiapkan
lahirnya filsafat di Yunani Kuno. Dalam hal ini, K. Bertens (1990) menyebutkan
ada tiga faktor, yaitu:[6]
1.
Mitos bangsa Yunani. Seperti bangsa-bangsa yang lainnya, Yunani juga
memiliki kepercayaan yang dianutnya. Mitologi ini dapat kita katakana perintis
dari adanya filsafat. Karena mitologi sendiri ada sebelum filsafat lahir dan
dikembangkan. Mitologi menjadi sebuah rangsangan adanya pemikiran rasional yang
lahir setelahnya. Kesadaran pada saat peradaban Yunani menggabungkan antara
kepercayaan yang satu dengan kepercayaan yang lainnya dan kemudian tidak ada
kecocokan sehingga mereka mulai merenungkan dan berpikir secara rasional.
Perlahan mulai lepas dari kepercayaan mitologi yang tidak mampu mereka pahami
dengan akal.
2.
Kesusastraan Yunani. Dalam kesusastraan terdapat beberapa syair-syair
yang merupakan buku pendidikan untuk rakyat Yunani.
3.
Pengaruh ilmu pengetahuan. Orang Yunani tentu berutang budi kepada
bangsa lain dalam menerima beberapa unsur ilmu pengetahuan. Seperti ilmu ukur
dan ilmu hitung.sebagian berasal dari Mesir. Pengaruh Babilonia dalam
perkembangan ilmu astronomi di negeri Yunani. Selain dari peran bangsa lain
ternyata memang bangsa Yunani mengolah dengan baik sehingga lahirlah ilmu
pengetahuan yang bercorak dan sungguh-sungguh ilmiah.
Dari beberapa penjelasan di atas dapat kita
lihat bahwa bangsa Yunani memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan
filsafat yang kita pelajari saat ini. Pemikiran rasional muncul dan menjadikan
manusia melepaskan diri dari belenggu pengaruh mitos, legenda, dan kepercayaan
yang tidak dapat ditangkap dengan akal. Disinilah filsafat mulai muncul dan
berkembang yang diawali dengan pemikiran Thales mengenai asal muasal kehidupan.
Walaupun memang pada masa Yunani bukan hanya Thales yang memiliki pemikiran
mengenai alam, adapula yang lainnya seperti plato, Aristoteles, dan Socrates.
Pada masa Yunani kuno lebih cenderung
kepada pemikiran intisari alam (arche). Mereka memikirkan bagaimana alam
ini ada dan terbentuk. Kemudian apa aspek penting yang sangat berperan dalam
penciptaan alam itu sendiri. Dalam masa ini lebih condong kepada permasalahan
atau pertanyaan yang muncul mengenai alam, misalkan apa penyebab matahari
terbit dan tenggelam? Kemudian darimana dunia kita?.[7]
Dari beberapa literature filsafat telah
disebutkan bahwa tahap sejarah filsafat barat dibagi menjadi empat tahap
penting yaitu filsafat klasik, abad pertengahan, modern, dan kontemporer.
Kemudian di era filsafat klasik ini dibagi menjadi dua zaman yaitu zaman
pra-socrates dan zaman keemasan.
B.
Filsafat Klasik (Masa Pra-Socrates)
Masa pra-socrates atau bisa disebut dengan filsafat alam karena pada
masa ini tokoh-tokoh lebih condong kepada pemikiran mengenai apa yang diamati
di sekitarnya, yakni alam semester. Tipe filsafat ala mini juga disebut sebagai
filsafat pra-socrates. Sebab, karakter pemikiran filsafat ini berbeda dengan
pemikiran filsafat zaman Socrates dan berikutnya. Belakangan ini, tokoh-tokoh
filsuf pra Socrates lebih dikenal dengan filsuf pertama atau filsuf alam.
Masa ini diwarnai pula oleh munculnya kaum sofisme. Kaum sofis ini
muncul pertama kali di Athena. Sofis berasal dari kata sofhos yang berarti
cendekiawan. Sebutan ini ditujukan kepada orang-orang yang ahli filsafat, ahli
bahasa, dan lain-lain. Menurut kaum ini tidak ada kebenaran yang berlaku secara
universal, kebenaran hanya berlaku secara individual. Dalam sejarah, kaum sofis
adalah kelompok yang pertama kali mengorganisasi pendidikan untuk orang muda.
Kaum ini memberikan dampak positif bagi bangsa Yunani dalam pengembangan
kebahasaan dan menyebabkan munculnya revolusi intelektual di Yunani. Gaya
bahasa dan membangun fondasi untuk pendidikan sistematis bagi kaum muda dan
mengambil manusia sebagai objek dari pemikiran filsafat, di samping
mempersiapkan kelahiran filsafat baru yang baru direalisasikan Socrates, Plato,
dan Aristoteles.[8]
Tokoh-tokoh filsafat kategori filsafat alam yaitu Thales (624-545 SM)
yang berpendapat bahwa kenyataan yang terdalam adalah satu substansi yaitu air.
Anaximander (610-546 SM) berkeyakinan bahwa yang merupakan kenyataan terdalam
adalah to apeiron, yaitu suatu yang tanpa batas, tidak dapat ditentukan
dan tidak memiliki persamaan dengan salah satu benda yang ada dalam dunia.
Anaximenes (585-528 SM) berkeyakinan bahwa yang merupakan unsur
kenyataan yang sedalam-dalamnya adalah udara. Sedangkan, menurut Phythagoras, arche
itu maksudnya bilangan, sementara Heraklitos arche itu api, ia juga
berpendapat bahwa segala sesuatu itu terus mengalir (panta rhei).
Berbeda lagi dengan Parmenides, bagi filsuf ini segala sesuatu itu tetap tidak
bergerak bukan sebagaimana yang diasumsikan oleh banyak filsuf lain.
Filosof lain yang berperan dalam perkembangan masa pra-socrates adalah
Xenophanes (580-470 SM). Ia adalah tokoh agamawan yang saleh dan taat beragama.
Menurutnya, segala sesuatu yang ada di dalam semesta ini berasal dari Tuhan
Yang Maha Esa yang memelihara alam semesta. Namun Xenophanes disini tidak terlalu
cenderung menghasilkan karya, tetapi lebih ke dalam penyampaian secara lisan.
Selanjutnya Parmenides (540-475 SM) yang merupakan murid dari Xenophanes.
Beliau memiliki pendapat mengenai filsafat ada. Pernyataannya adalah mustahil
bahwa “yang ada” itu tidak ada, dan bahwa “yang tidak ada” itu ada. “Yang tidak
ada justru tidak ada” dan yang tidak ada itu mustahil dapat dibicarakan dan
dipikirkan. Yang dapat dibicarakan dan dipikirkan adalah ‘yang ada”.
Tokoh selanjutnya adalah Heraklitos (535-480 SM) yang menyatakan bahwa
kehidupan berasal dari api. Menurutnya segala sesuatu yang ada di dunia ini
pasti berubah. Sesuatu ini semua adalah menjadi. Demikian juga dengan segala
sesuatu dari yang tidak ada adalah menjadi ada.
Pendapat Parmenides ini mendapat dukungan dari muridnya sendiri yaitu
Zeno (+490 SM). Ia mengatakan bahwa jika keterangan orang yang membantah
dinyatakan salah, maka pendirian gurunya benar dengan sendirinya. Ia
mempertahankan benar kesatuan ada ini dan mengingkari benar gerak.
Pada waktu sesudah para filsuf ini ditempatkan pada sebuah pilihan yang
sangat sulit. Apakah kenyataan sesuatu yang “ada” itu tak berubah, atau berada
dalam gejala-gejala yang terus menerus berubah. Semua ahli pikir ditempatkan diantara
Parmenides dan Socrates, dengan dua pilihan tadi. Para ahli pikir itu adalah
Empedocles, Democritos, dan Anaxagoras.
Membahas Empedocles (492-432 SM) yang menyatakan bahwa ia setuju dengan
pendapat Parmenides, bahwa di dalam alam semesta ini tiada sesuatu pun yang
dilahirkan sebagai hal yang baru dan dibinasakan sehingga tiada lagi. Tetapi di
sisi lain ia menentang pendapat Parmenides yang beranggapan bahwa kesaksian
indera adalah palsu.
Empedocles kemudian dikenal dengan teori pengenalan dan pengetahuan yang
didasarkan atas hukum penggabungan tersebut. Hukum ini digambarkan seperti ini:
Karena anasir tanah yang ada pada manusia itulah maka manusia mengenal tanah,
dan karena anasir air itulah manusia mengenal air.
Pendapat Empedocles ini didukung oleh filusuf dari negeri Athena yaitu
Anaxagoras (499–428 SM), ia adalah orang pertama yang mengenalkan filsafat di
negeri Athena. Perbedaan yang terdapat di dalamnya hanya jumlah anasir itu
tidak hanya empat. Melainkan jumlah anasir itu tidak terbilang. Ajaran
Anaxagoras berkaitan dengan adanya ruh. Ia menyatakan bahwa ruh merupakan
sesuatu yang terhalus dan tersempurna. Ruh memiliki sifat tak terbatas dan
mandiri serta tak tercampur apa pun sehingga dapat dikatakan bahwa ruh adalah
sumber gerak atau kekuatan pengendali segala sesuatu yang hidup.
Filosof selanjutnya ini adalah Democritos (460-370 SM) yang mengajarkan
bahwa kenyataan bukan hanya satu saja, melainkan terdiri dari banyak unsur.
Unsur-unsur itu ia sebut sebagai atomos “tak terbagi”. Kemudian Democritos juga
mengatakan bahwa pengetahuan dibedakan menjadi dua yaitu pengetahuan yang
sebenarnya dan pengetahuan yang tidak sebenarnya. Adapun pengetahuan yang tidak
sebenarnya adalah penglihatan, penciuman, dan rasa.
Banyak filosof alam yang sudah berpendapat dengan pemikiran-pemikiran di
atas. Mereka memikirkan mengenai arche (asal muasal segala sesuatu).
Tetapi masih saja hal ini belum terjawab dengan tuntas karena masih saja ada
problem yang tersisa. Hal ini dapat kita lihat dari konflik pemikiran
Heraklitos dan Parmenides yang mana pendapat keduanya ini saling bertolak
belakang mengenai arche. Apakah sesuatu itu memang ada atau hakikatnya
tidak ada kemudian menjadi ada. Adapula pengetahuan indera dan pengetahuan budi
yang juga masih belum terselesaikan.
Dalam masa filosof alam atau filosof pertama ini tentu masih sederhana
dalam pemikirannya yang lebih condong dalam pembahasan mengenai arche. Tetapi
ia memiliki kemajuan yang lebih pesat dalam menyelesaikan sesuatu dengan
menggunakan filsafat. Masa ini akan berlanjut ke masa keemasan yang akan
menjawab permasalahan yang ada pada zaman sebelumnya (filosof alam).
C.
Masa Keemasan
Masa ini terlahir filosof-filosof terkenal dan hebat seperti Socrates,
Plato, Aritsoteles. Ketiga filosof ini sangat berkembang dan eksis pada zaman
keemasan ini. Mereka mampu menjawab permasalahan yang tersisa atau
menyempurnakan dari sesuatu yang masih menjadi pertanyaan melalui
pemikiran-pemikiran yang sangat rasional. Pemikiran mereka yaitu:
1.
Socrates (470 – 399 SM)
Ia merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani
yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles. Pemikirannya lebih diberikan mengenai
manusia sebagai objek filsafatnya. Socrates dalam pemikirannya selalu berusaha
untuk menyelidik manusia secara keseluruhan baik yang ruhaniah ataupun
jasmaniah.
Sumbangsih Scocrates yang terpenting dalam pemikiran Barat adalah metode
penyelidikannya yang dikenal sebagai metode elenchos. Metode ini banyak
diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena inilah ia dikenal
sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral.
Pemikirannya tentu dipengaruhi bagaimana kesehariannya dan dalam
keahliannya. Socrates yang seorang pengajar tentu mempengaruhi setiap
pemikirannya dalam menyikapi suatu permasalahan. Ia selalu dikenal sebagai
orang yang jujur dan berwawasan luas. Percaya akan kebaikan, sehingga ia
dikenal dengan pepatahnya “kenalilah dirimu”.
Pemikirannya tidak hanya mengenai moral yang baik saja tetapi juga
politik. Pemikiran politiknya berawal dari Yunani Kuno. Pikiran Yunani yang
sistematis menyelidiki watak dan jalannya institusi politik.
Doktrin politik Socrates bahwa “kebijakan adalah pengetahuan” merupakan
dasar pemikiran politiknya mengenai negara. Inilah satu pandangan politik
Socrates yang amat penting dan seharusnya memang harus ada dalam sebuah urusan
kepemimpinan yang ada di dunia. Pendapatnya ini berpengaruh pada pemikiran
muridnya setelah ini.[9]
Mengenai pemikirannya yang lain, Socrates juga menyebutkan bahwa
terdapat prinsip-prinsip moralitas yang tidak berubah dan universal yang
terdapat pada hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang beragam di berbagai belahan
dunia ini.
Akhir hayat dari filosof besar ini sangat menyedihkan yaitu ajarannya
yang berbeda dari pandangan masyarakat Yunani. Ia menyebutkan bahwa sebenarnya
hanya ada satu gaya yang menggerakan dunia ini, berbeda halnya dengan pemikiran
masyarakat yang percaya akan kuil (oracle) dari dewa-dewa.
Dengan pemikirannya yang berbeda
ini menyebabkan ia dituduh telah merusak akhlak dan kemudian dipenjara. Di
dalam tempat itu ia diberikan tawaran untuk bunuh diri dengan meminum racun.
Murid-murid Socrates yang ada di dalam ruangan tersebut dan menjadi hakim,
penjaga penjara, tantara, telah meminta Socrates untuk melarikan diri. Tetapi
ia menolak, karena jika ia melarikan diri maka segala sesuatu yang ia ajarkan
adalah salah dan lebih baik mati tetapi ajarannya akan terus hidup.
2.
Plato (427-347 SM)
Plato adalah murid dari Socrates, dan guru dari Aristoteles. Menurutnya
dunia fana ini tidak lain hanya refleksi atau bayangan dari dunia yang ideal.
Dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan warna-warni.
Semua adalah bayangan dari dunia idea.
Ia dikenal dengan gagasannya mengenai ide. Karenanya, dunia pengalaman
ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah tiruanyang tidak sempurna
dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada di dunia
ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea sana (dunia idea). Menurutnya
dunia pengalaman adalah pancaran dunia ide.
Mengenai Tuhan, Plato mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah bagi
manusia yang tidak pantas apabila mengetahuinya yaitu:[10]
a.
Manusia itu mempunyai Tuhan sebagai penciptanya.
b.
Tuhan mengetahui segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia
c.
Tuhanlah yang menjadikan alam ini dari tidak mempunyai peraturan menjadi
memiliki peraturan.
Pemikiran Plato memang dipengaruhi oleh
filsuf sebelumnya. Ia juga merupakan murid Socrates yang sangat giat dan
cerdas. Sudah banyak buku yang ia ciptakan dan karya-karya serta pemikiran yang
masih ada hingga sekarang.
Pemikiran Plato juga tidak hanya mengenai
Tuhan tetapi juga mengenai politik. Hingga politikus Indonesia pun menjadikan
Plato sebagai kiblat dalam ranahnya berpolitik. Contohnya seperti Amien Rais
dengan high politics-nya serta Haryatmoko melalui bukunya Etika
Politik dan Kekuasaan (2003), ternyata Plato sudah mengungkapkan mengenai
hal tersebut beberapa abad lalu.
Menurut Plato dalam tiap-tiap negara segala
golongan dan orang-orang di dalamnya adalah alat semata-mata untuk
kesejahteraan semuanya. Kesejahteraan semuanya itulah yang menjadi tujuan yang
sebenarnya dan itu pulalah yang menentukan nilai pembagian pekerjaan.
Plato dengan Socrates disini masih
sepemahaman. Mereka sangat menghargai dan memegang teguh nilai moral. Hubungan
antara Plato dan Socrates disini sangat baik dan berkesinambungan. Memegang
erat nilai kebaikan sehingga melahirkan nilai-nilai kebaikan.
3.
Aristoteles ( 384-322 SM )
Aristoteles adalah murid Plato. Kecerdasannya sangat luar biasa sehingga
ia hampir menguasai berbagai ilmu yang berkembang pada masanya. Kecenderungan berpikir
saintifik tampak dari pandangan-pandangan filsafatnya yang sistematis dan
banyak menggunakan metode empiris.
Pemikiran Aristoteles disini berbeda dengan Plato yang menganggap bahwa
dunia pengalaman adalah cerminan dari idea. Plato juga hanya membahas tentang
persoalan kontrakdiktif antara tetap dan menjadi. Namun Aristoteles menganggap
bahwa tidak hanya itu saja, tetapi banyak bentuknya. Dan juga dunia realitas
yang sesungguhnya. Itulah sebabnya Aristoteles lebih dikenal dengan realisme.
Walaupun posisi Aristoteles disini sebagai murid dari Plato tetapi
ajarannya banyak yang tidak sepaham. Bahkan Aristoteles juga menolak paham
tentang idea. Menurutnya idea adalah sesuatu yang tidak tetap dan memahami
bahwa nilai baik dari satu idea itu saja sudah sangat mempengaruhi bagaimana
sikap seseorang.
Mengenai filsafatnya dalam berpolitik ia mengatakan bahwa kita harus
memikirkan bukan saja hanya bentuk pemerintahan apa yang terbaik, namun juga
apa yang mungkin dan paling mudah dicapai oleh semua.
Tugas utama negara menurutnya adalah menyelenggarakan kepentingan umum,
yaitu sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama. Karena itu bentuk
pemerintahan yang benar adalah bentuk-bentuk ketika penguasa yang satu, yang
sedikit, dan yang banyak itu, memerintah dengan memerhatikan kepentingan umum.
Pemikiran Plato dan Aristoteles ini merupakan sebuah fakta adanya
kemajuan filsafat yang membuat para pemikir dunia Barat pada zamannya sangat
tertarik untuk mengkaji lebih dalam. Hubungan antara guru dan murid yang sama-sama
kritis disimbolkan sebagai bumi dan langit.
Kedua pemikir besar ini tidak saling bermusuhan dan dikenal tetap
sebagai filusuf besar yang saling melengkapi. Perbedaannya hanya pada
pemikiran, sementara sebagai murid ia tetap hormat kepada sang guru yaitu
Plato.
Pada masa keemasan ini kita dapat melihat bahwa ketiga tokoh besar ini
sangat menghargai moral yang baik dan juga pemikiran-pemikirannya yang lebih
kompleks. Tidak hanya membahas mengenai asal mula sesuatu saja tetapi sudah
mulai membahas mengenai hakikat jiwa dan ruh manusia, mereka sudah mulai
menggunakan objek manusia dalam berfilsafat.
Politik juga menjadi objek dalam filsafat pada masa ini. Dengan melihat
beberapa objek yang sudah ada setelah filsafat alam, tentu filsafat tahun ini
lebih berkembang. Hubungan antara guru dan murid yang saling melengkapi dalam
berpendapat menjadikan filsafat lebih mendalam dan banyak objek kajiannya.[11]
D.
Filsafat Abad Pertengahan
Filsafat abad pertengahan sering disebut dengan filsafat skolastik
(476-1492 M). pada masa ini filsafat berada pada titik rendah dan kegelapan.
Manusia dibelenggu oleh aturan gereja. Mereka tidak lagi bebas dalam memberikan
pendapat dan mengembangkan potensinya. Apalagi jika terdapat
pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan agama ajaran gereja. Siapapun yang
mengemukakan hal demikian akan dihukumi berat.
Dalam abad ini pihak gereja menolak jika ada yang akan menyelidiki agama
dengan manggunakan rasionya. Dapat digambarkan bahwa corak pada abad
pertengahan yaitu:
1.
Cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja.
2.
Berfilsafat di dalam lingkungan yang diajarkan Aristoteles.
3.
Berfilsafat dengan pertolongan agustinus.
Secara garis besar filsafat abad
pertengahan ini dibagi menjadi dua yaitu periode skolastik Islam dan periode
skolastik Kristen. Pada masa skolastik Islam, pemikiran filsafat sudah dimulai
sejak abad ke VII Masehi, dan berkembang pesat saat Daulah Abbasiyah di Baghdad
(750-1258 M) dan Daulah Amawiyah di Spanyol (755-7492 M).
1.
Filsafat Skolastik Islam
Ada empat masa dalam skolastik Islam yaitu periode kalam pertama yang
ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok mutakalim atau aliran-aliran dalam
ilmu kalam seperti Khawarij, Syiah, Murjiah, Qadariyah, Jabariyah, Mu’tazilah,
dan Ahlu Sunnah.
Dalam kaitannya dengan filsafat aliran yang paling menonjol ini adalah
aliran Mu’tazilah. Dalam aliran ini menyatakan bahwa adanya keesaan Tuhan,
kebebasan kehendak, keadilan Tuhan, posisi tengah, amar ma’ruf nahi munkar.
Periode filsafat pertama yang dikembangkan oleh al-Kindi (806-873 M),
al-Razi (865-925 M), al-Farabi (870-950 M), dan Ibnu Sina (980-1037 M). Periode
filsafat pertama ini melahirkan periode kalam kedua dan filsafat kedua. Periode
kalam kedua ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh kalam penting dan besar
pengaruhnya seperti al-Asy’ari dan al-Ghazali. Asy’ari yang terkenal dengan
aliran Asy’ariyah dan al-Ghazali yang terkenal dengan bukunya Tafahut
al-Falasifah.[12]
Periode ini terus berlanjut hingga menuju ke periode filsafat dua yang
dikembangkan oleh tokoh-tokoh filsafat Islam yang ternama seperti Ibnu Bajjah
(1100-1138 M), Ibnu Tufail (1185 M), dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M). Pada masa
Ibnu Rusyd, ia menunjukkan sikap pembelaan terhadap filsafat dan para filsuf
atas serangan-serangan al-Ghazali. Sampai pada abad ke-12 orang Barat masih belum
mengenal filsafat Aristoteles secara keseluruhan.
Kemudian skolastik Islam membawakan perkembangan filsafat di Barat.
Berkat tulisan dari filusuf Islam, orang barat menjadi kenal terhadap
Aristoteles dan menganggap bahwa Aristoteles dan Plato ada keterkaitan dalam
al-Qur’an. Sehingga dari yang anggapannya dulu Aristoteles adalah salah karena
penduduk Barat belum mengenal menjadi ada sesuatu yang berubah menjadi lebih
baik, yaitu Aristoteles adalah benar, Plato dan al-Qur’an adalah benar.
Periode selanjutnya adalah periode kebangkitan, periode ini disebut
dengan kebangkitan karena setelah mengalami kemerosotan, agama Islam kembali
bangkit dan berpikir lebih dalam (berfilsafat) kembali. Gerakan pembaharuan
yang tokohnya Jalaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Muhammad
Iqbal.
2.
Filsafat Skolastik Kristen
a.
Masa Skolastik Awal
Pada masa ini, filsafat sudah agak mengalami kemajuan dan kebangkitan.
Ilmu-ilmu pengetahuan sudah bisa dimasukkan ke sekolah-sekolah walaupun belum
keseluruhan. Pada masa ini didukung oleh beberapa tkoh yaitu Anselmus
(1033-1109 M) yang menyatakan bahwa rasio dapat digunakan untuk hal-hal yang
berkaitan dengan keagamaan.
b.
Masa Skolastik Keemasan
Pada masa awal dahulu filsafat bertumpu pada alam pikiran dan
karya-karya kristiani. Tetapi sejak pertengahan abad ke-12 filusuf Islam,
kemudian munculah masa ini yang merupakan masa keemasan dimana muncul
universitas-universitas dan ilmu pengetahuan. Mengapa hal ini dapat terjadi
tentu menjadi pertanyaan yang sangat wajar jika masa sebelumnya filsafat
mengalami masa suram kemudian menjadi maju dan berkembang, beberapa alasannya
yaitu:
1)
Adanya pengaruh dari beberapa ilmuwan Barat dan Islam yang menyebabkan
pengetahuan menjadi berkembang. Seperti Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina.
2)
Tahun 1200 M didirikan Universitas Almamater di Perancis. Universitas
ini gabungan dari beberapa sekolah. Universitas inilah yang menjadi cikal bakal
universitas di Paris, Oxford, Cambridge, dan lain-lainnya.
3)
Berdirinya ordo-ordo karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu
pengetahuan sehingga tentu akan memberikan sebuah cahaya mengenai pentingnya
dalam berkembangnya ilmu pengetahuan.
c.
Masa Skolastik Akhir
Pada Masa ini filsafat Barat mengalami stagnasi dalam berfikir. Namun
masih ada pemikiran yang muncul yaitu mengenai tiga cara mengenal yaitu lewat
indera, akal, dan intuisi. Tokoh yang mengembangkannya yaitu Nicolus Cusanus
(1401-1404 M). Sintesis ini mengarah ke masa depan dan pemikirannya ini
tersirat suatu pemikiran para humanis.
3.
Masa Skolastik Thomas Aquinas (1255-1274)
Puncak tradisi pemikiran-pemikiran skolastik adalah pada masa Thomas
Aquinas yang merupakan penganut Plato dan Aristoteles. Walaupun demikian, ia
lebih condong kepada Aristoteles dan dikenal sebagai pemikir empiris.
E.
Filsafat Modern
1.
Filsafat Renaissance
Pada masa ini filsafat lahir kembali. Tokoh-tokohnya yaitu Niccolo
Machiavelli (1469-1527). Ia terkenal dengan caranya menyampaikan filsafat
secara blak-blakan. Misalnya saja ketika berfilsafat mengenai politik ia
mengatakan bahwa penguasa yang masih ingin tetap berkuasa dan memperkuat
kekuasaannya, ia harus menggunakan tipu
muslihat, licik dan dusta. Digabung dengan kekejaman penggunaan
kekuatan. Walaupun seringkali filsafatnya ini mengalami kontroversi, namun
sebenarnya memangada tujuannya yaitu untuk mencapai sesuatu yang diinginkan
tersebut dengan menghalalkan segala cara.
Francis Bacon adalah salah satu tokoh filsafat modern yang terkenal
dengan induksi modern dan menjadi pelopor dan menjadi pelopor yang
mensistimatisasi secara logis prosedur ilmiah, seluruh filsafatnya bersifat
praktis. Untuk menjadikan manusia menguasai kekuatan-kekuatan alam dengan
perantara penemuan-penemuan ilmiah. Menurutnya tujuan ilmu adalah penguasaan
manusia terhadap alam.
2.
Filsafat Modern
Pada zaman filsafat ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan berasal dari
manusia itu sendiri, dari akalnya kemudian lahirlah sebuah ilmu pengetahuan.
Ini berbanding terbalik dengan empirisme yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan
lahir dari adanya pengalaman.
Tokoh-tokoh di dalamnya adalah Rene Descartes (1596-1650 M) ia
menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan berasal dari pikiran, disinilah akan
tercipta sebuah ilmu pengetahuan. Sehingga dapat dibagi menjadi tiga realitas
yaitu realitas pikiran, realitas perluasan atau materi, dan Tuhan sebagai wujud
yang sempurna.
Semua tokoh filsafat modern tidak berarti memiliki pemikiran yang sama,
sesuai dengan zaman sebelumnya. Seperti John Locke yang menyatakan bahwa
pernyataan Rene Descartes tidak sempurna. Jadi akal budi bukanlah segalanya
dalam ilmu pengetahuan. Pengalaman masih berperan penting di dalamnya.[13]
Immanuel Kant juga ikut memberikan pendapatnya menganai sebuah ilmu
pengetahuan, yang menurutnya mememang keduanya memiliki suatu bagian
tersendiri, ia mengistilahkan sintetik-aposteriori, sesuatu yang dikatakan
bahwa predikat belum tentu menjadi subjek. Ia hidup di jaman pencerahan dimana
telah dipengaruhi oleh paham rasioanlisme yang sangat mengunggulkan akal atau
rasio.[14]
F.
Filsafat Kontemporer
Masa ini adalah masa penyempurna dari masa-masa sebelumnya yang memiliki
kekurangan. Dan pada masa ini filsafat lebih disempurnakan kembali. Kontemporer
memiliki ciri khas adanya pemikiran yang pragmatis dari para tokohnya. Tokoh
yang ada pada masa ini adalah William James, John Dewey, Michel Foucault, Karl
R. Popper, dan Albert Camus.
Mengenai kebenaran pragmatis, etika, dan kepercayaan religious yang
ditokohkan oleh John Dewey dan tokoh lainnya yang saling membicarakan mengenai
etika dan kebenaran yang pragmatis. Kebenaran yang seharusnya memang harus
terlihat oleh indera dan kenyataan yang ada.[15]
Tokoh yang terkenal pada masa ini adalah William James yang menamakan
filsafatnya pragmatisme. Yang dimaksudkan dengan yang benar adalah mereka yang
memang benar dengan menunjukkan sebuah aktualisasi atau praktek.
Memang mengenai pragmatisme sendiri terdapat kekurangan dan kelebihan
yang ada dalam penerapannya. Kekuatan pragmatisme unuk memajukan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta menyusun sebuah pikiran yang liberal, dan
membentuk sebuah pemikiran untuk tidak mudah percaya sebelum ada bukti yang
nyata.[16]
Kelemahan dari pragmatis adalah menciptakan pola pikir yang materialistik,
sehingga manusia dituntut untuk melakukan sesuatu yang dapat dihargai dengan
indera dengan melakukan berbagai cara.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat muncul dan berkembang pertama kali pada masa
peradaban Yunani kuno. Pada masa ini peradaban Yunani kuno ingin melepaskan
diri dari belenggu mitos, kepercayaan, dan khayalan yang menyebabkan mereka
tidak menggunakan rasionya.
Kemudian pada abad 7 SM barulah mereka berani untuk
menyelesaikan sebuah permasalahan dan menjawab pertanyaan yang ada dalam
dirinya dengan menggunakan rasio atau akal. Disinilah sedikit demi sedikit
peradaban Yunani mengalami masa yang mulai cerah dan berkembang sehingga mampu
melahirkan filosof-filosof di masa setelahnya dengan pemikiran yang terus
berkembang dan melengkapi.
Masa filsafat Yunani Kuno yang paling awal ditandai dengan adanya
pemikiran mengenai alam (arche) yang mana mereka sudah mulai memikirkan
bagaimana alam bisa tercipta dan ada sekarang ini. Pada masa ini tokoh yang ada
di dalamnya yaitu Thales, Anaximander, Anaximenes, Phytaghoras, dan lainnya.
Yang berfilsafat dengan menggunakan rasionya dengan berbagai macam pendapatnya.
Setelah itu munculah zaman keemasan yang di pelopori oleh tiga tokoh besar
yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Filsafat Abad pertengahan yaitu masa suram yang terjadi pada filsafat
barat karena adanya belenggu aturan gereja yang berakibat adanya kebekuan dalam
berfilsafat. Mereka dibatasi oleh aturan-aturan yang sangat mengganggu
perkembangan dari pemikiran manusia pada zaman itu, sehingga pada abad ini ada
tiga periode yang ada yaitu skolastik Islam, skolastik Kristen, dan skolastik
Aquinas.
Setelah terjadi masa suram filsafat Yunani mulai ada pencerahan pada
masa modern karena mereka telah terlepas dari aturan tersebut dan mulai
menggunakan rasionalnya. Kemudian pada masa filsafat kontemporer ini adalah
masa penyempurnaan dari masa-masa sebelumnya.
B.
Saran
Demikian pemakalah sampaikan makalah yang berisi tentang pembahasan
mengenai sejarah filsafat. Besar
harapan pemakalah dalam makalah ini dapat memberikan khasanah keilmuan, namun
pemakalah yakin dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan
pemakalah dalam memahami dan menelaah. Untuk itu kritik dan saran yang
konstruktif sangat pemakalah harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Latief, Juraid. Manusia, Filsafat,
dan Sejarah. Jakarta: Bumi Aksara. 2006.
Abdullah Idi, dan Jalaluddin. Filsafat
Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2007.
Gholib, Achmad. Filsafat Islam. Jakarta:
Faza Media. 2009.
Husaini, Adian. Filsafat Ilmu Prespektif Barat dan Islam. Jakarta: Gema
Insani. 2013.
Juwariyah. Islam dan Filsafat Ilmu dalam Pengembangan Pendidikan.
Yogyakarta: Kependidikan Islam. 2004.
Maksum, Ali. Pengantar Filsafat. Jogjakarta
: Ar-Ruzz Media. 2011.
Muslih, Mohammed. Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma,
dan Kerangka Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar Yogyakarta. 2005.
Nurkhalis. Pemikiran Filsafat Islam menurut Mulla Sadra. Banda
Aceh: Jurnal Substantia. 2011.
TIM MKD. Pengantar Filsafat. Surabaya:
UINSA Press. 2016.
[8]Nurkhalis, “Pemikiran
Filsafat Islam menurut Mulla Sadra”, Jurnal Substantia Vol. 13 No. 2,
Oktober 2011, 179.
[13]Mohammed
Muslih, Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Ilmu
Pengetahuan, (Yogyakarta, Belukar Yogyakarta 2005), 57.
Comments
Post a Comment