Sejarah Filsafat Ilmu


BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Filsafat merupakan sebuah ilmu yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Ilmu ini menentukan bagaimana pola pikir dan dinamika yang terjadi dalam ide yang ada. Peran manusia sangat penting dalam proses perkembangan filsafat dari yang secara umum saja menjadi pemikiran filsafat yang lebih luas.
Seiring berjalannya waktu tentu terdapat perbedaan perkembangan sejarah dalam ilmu filsafat itu sendiri. Filsafat dalam islam yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan islam kemudian filsafat barat yang dikembangkan oleh orang barat. Mereka saling memberikan kontribusi dalam kemajuan ilmu filsafat itu sendiri.
Dalam perkembangan filsafat islam dan filsafat barat memiliki keterkaitan dan saling berkesinambungan. Sehingga perlu untuk mempelajari bagaimana lahirnya filsafat islam dan filsafat barat. Pemikiran-pemikiran kedua filsafat ini terus berkembang dari yang paling dasar menjadi lebih spesifik, contohnya filsafat barat yang berfikir dari kosmosentris menjadi teosentris. Dan filsafat islam yang membahas tentang ketuhanan menjadi lebih luas pembahasannya mengenai alam dan manusia.
B.            Rumusan Masalah
1.        Bagaimana sejarah lahirnya filsafat?
2.        Bagaimana sejarah perkembangan filsafat dari masa ke masa, serta siapa tokoh-tokohnya?
C.           Tujuan Penulisan
1.        Memahami sejarah lahirnya filsafat.
2.        Memahami sejarah perkembangan filsafat dari masa ke masa, serta mengetahui tokoh-tokohnya.

BAB II
PEMBAHASAN
A.           Sejarah Lahirnya Filsafat Barat
Setiap pemikiran manusia memiliki asal muasal atau sejarah sendiri-sendiri. Pemikiran itu terus berkembang dan saling menyempurnakan dari masa ke masa. Filsafat akan terus mengalami perkembangan sampai kapanpun. Namun kita perlu mengetahui bagaimana filsafat tersebut dapat lahir sehingga kita mampu mempelajarinya sampai sekarang.
Sejarah merupakan beberapa peristiwa yang terjadi di masa silam dan memerlukan waktu yang amat panjang. Peristiwa tersebut akan dikembangkan oleh manusia sehingga mengalami beberapa perubahan sebagai dampak dari adanya sejarah itu sendiri. Sehingga sejarah inilah awal bagaimana segala sesuatu itu berasal dan ada.[1]
Perkembangan filsafat tidak akan pernah lepas dari peran kebudayaan dan peradaban Yunani. Disinilah pertamakali filsafat muncul dan berkembang.[2] Peradaban Yunani melahirkan filusuf-filusuf hebat di masa setelahnya. Mereka yang dahulu sangat terbelenggu atas pemikiran mitos, legenda, dan kepercayaan kemudian menggunakan logika sedikit demi sedikit. Disinilah muncul sebuah pemikiran yang rasional pada jamannya.
Bertrand Russell (1946), dalam bukunya History Of Western Philosophy, mengenai munculnya filsafat di Yunani tersebut akibat kemahiran bangsa Yunani dalam merajut dan menyempurnakan peradaban besar lainnya pada saat itu seperti Mesir dan Mesopotamia.[3] Peradaban Yunani memang sukses menginspirasi peradaban lain untuk bergerak dan berubah pemikirannya menjadi lebih cerah dan membangun peradaban yang agung dan luhur.
Dalam perkembangan pada peradaban Yunani hingga kemudian sukses melahirkan pemikiran-pemikiran filsafat ini tidak lepas dari banyaknya permasalahan yang muncul pada awal perkembangannya. Sebagian orang terus menggugat dan memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis. Namun, pertanyaan ini masih bisa dipecahkan oleh filosof barat pada zaman itu.
Adapun pertanyaan itu muncul karena ingin mengetahu alasan mengapa filsafat lahir dan berkembang di Yunani dan kenapa tidak lahir di daerah peradaban lain seperti Babilonia, Mesopotamia atau Mesir? Apalagi Mesir saat itu juga tak kalah besar dibandingkan daerah lainnya. Namun pertanyaan ini mampu dijawab secara sederhana yaitu Yunani adalah negeri yang tidak pernah mempermasalahkan kasta, ras, sosial. Mereka menyama ratakan semuanya. Sehingga perkembangan pemikiran begitu pesat. Dengan adanya hal tersebut kita tentu tau bahwa Yunani merupakan salah satu contoh negeri yang dijadikan pusat atau poros dalam ilmu filsafat. Memang jika kita lihat dari perkembangannya tentu Yunani memang lebih pantas diberikan sebutan dengan hal demikian.
Hambatan lain muncul jauh sebelum filsafat muncul, masyarakat Yunani masih menggantungkan diri pada mitos, legenda, kepercayaan, dan agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan mereka. Ketika ada sebuah permasalahan dalam hidup, mereka selalu mengaitkan dengan pemikiran dahulu yang lebih condong kepada sesuatu yang tidak bisa ditangkap dengan rasional.
Kemudian pada abad ke-7 SM, di Yunani mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan di masa-masa sebelumnya, yaitu dengan pendekatan filsafat. Bangsa Yunani mulai mencari jawaban rasional dan merenungkan permasalahan tersebut menggunakan akal termasuk pula mengenai alam semesta.
Dari sinilah peradaban Yunani mengalami kemajuan dalam pemikirannya. Dari yang sangat mempercayai mitos menjadi lebih berpikir secara rasional dan berdiskusi tentang keadaan alam, dunia, dan lingkungan sekitar. Peran Logos atau akal budi, rasio sudah mulai berperan dalam kehidupan mereka.[4] Dari sinilah terdapat kemajuan yang ada pada peradaban Yunani, dan menjadi kunci perkembangan filsafat di masa selanjutnya.
Kemudian dalam perkembangan filsafat Yunani ini tentu ada tokoh yang sangat berperan di dalamnya. Dari beberapa tokoh yang ada pada masa Yunani ada satu tokoh yang diberi gelar filsuf Yunani pertama yaitu Thales.[5] Thales merupakan orang yang pertama kali mengungkapkan bagaimana awal dari adanya kehidupan. Yang kemudian dari pendapat Thales inilah muncul perdebatan hingga saat ini dan melahirkan banyak aliran dan pemikir yang sangat berpengaruh dalam perkembangan filsafat.
Thales berpendapat bahwa intisari alam ini ialah air. Ia menganggap bahwa air merupakan asal mula dari adanya kehidupan. Kemudian disusul oleh pemikiran anaximandros, Anaximenes, dan pitagoras. Anaximandros menyatakan bahwa dasar pertama alam itu ialah zat yang tak tertentu sifat-sifatnya, yang dinamakan to apeiron.
Anaximenes kemudian berbeda pendapat dengan filosof sebelumnya, ia menyebutkan bahwa intisari alam adalah udara. Ia menyebutkan hal demikian karena menurutnya udara yang meliputi alam dan udara pula yang menjadi dasar hidup bagi manusia untuk bernafas.
Phytagoras pun juga menanggapi perbedaan pendapat disini dengan membuat pernyataan pendapat bahwa dasar dari segala sesuatu ialah bilangan. Orang yang tahu dan dan mengerti betul akan bilangan, maka ia akan mengetahui sesuatu. Pemikiran pitagoras tidak hanya mencakup alam saja tetapi juga mengenai jiwa manusia. Menurutnya manusia adalah sesuatu yang non jasmani. Jika manusia itu mati maka yang hilang atau yang mati adalah jiwanya. Oleh karena itu ia menganggap bahwa jiwa akan terkurung di dalam badan manusia. Disinilah manusia harusnya membersihkan jiwanya yang kemudian dari jiwa yang bersih akan muncul pengetahuan yang baik. Dengan demikian ada hubungan erat antara tingkah laku dan pengetahuan.
Dalam perbedaan pendapat di atas merupakan beberapa contoh yang ada dalam Yunani kuno. Peristiwa munculnya filsafat di Yunani terbilang sebagai sebuah peristiwa yang unik dan ajaib (The Greek Miracle). Hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor yang mendahului dan seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani Kuno. Dalam hal ini, K. Bertens (1990) menyebutkan ada tiga faktor, yaitu:[6]
1.        Mitos bangsa Yunani. Seperti bangsa-bangsa yang lainnya, Yunani juga memiliki kepercayaan yang dianutnya. Mitologi ini dapat kita katakana perintis dari adanya filsafat. Karena mitologi sendiri ada sebelum filsafat lahir dan dikembangkan. Mitologi menjadi sebuah rangsangan adanya pemikiran rasional yang lahir setelahnya. Kesadaran pada saat peradaban Yunani menggabungkan antara kepercayaan yang satu dengan kepercayaan yang lainnya dan kemudian tidak ada kecocokan sehingga mereka mulai merenungkan dan berpikir secara rasional. Perlahan mulai lepas dari kepercayaan mitologi yang tidak mampu mereka pahami dengan akal.
2.        Kesusastraan Yunani. Dalam kesusastraan terdapat beberapa syair-syair yang merupakan buku pendidikan untuk rakyat Yunani.
3.        Pengaruh ilmu pengetahuan. Orang Yunani tentu berutang budi kepada bangsa lain dalam menerima beberapa unsur ilmu pengetahuan. Seperti ilmu ukur dan ilmu hitung.sebagian berasal dari Mesir. Pengaruh Babilonia dalam perkembangan ilmu astronomi di negeri Yunani. Selain dari peran bangsa lain ternyata memang bangsa Yunani mengolah dengan baik sehingga lahirlah ilmu pengetahuan yang bercorak dan sungguh-sungguh ilmiah.
Dari beberapa penjelasan di atas dapat kita lihat bahwa bangsa Yunani memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan filsafat yang kita pelajari saat ini. Pemikiran rasional muncul dan menjadikan manusia melepaskan diri dari belenggu pengaruh mitos, legenda, dan kepercayaan yang tidak dapat ditangkap dengan akal. Disinilah filsafat mulai muncul dan berkembang yang diawali dengan pemikiran Thales mengenai asal muasal kehidupan. Walaupun memang pada masa Yunani bukan hanya Thales yang memiliki pemikiran mengenai alam, adapula yang lainnya seperti plato, Aristoteles, dan Socrates.
Pada masa Yunani kuno lebih cenderung kepada pemikiran intisari alam (arche). Mereka memikirkan bagaimana alam ini ada dan terbentuk. Kemudian apa aspek penting yang sangat berperan dalam penciptaan alam itu sendiri. Dalam masa ini lebih condong kepada permasalahan atau pertanyaan yang muncul mengenai alam, misalkan apa penyebab matahari terbit dan tenggelam? Kemudian darimana dunia kita?.[7]
Dari beberapa literature filsafat telah disebutkan bahwa tahap sejarah filsafat barat dibagi menjadi empat tahap penting yaitu filsafat klasik, abad pertengahan, modern, dan kontemporer. Kemudian di era filsafat klasik ini dibagi menjadi dua zaman yaitu zaman pra-socrates dan zaman keemasan.
B.            Filsafat Klasik (Masa Pra-Socrates)
Masa pra-socrates atau bisa disebut dengan filsafat alam karena pada masa ini tokoh-tokoh lebih condong kepada pemikiran mengenai apa yang diamati di sekitarnya, yakni alam semester. Tipe filsafat ala mini juga disebut sebagai filsafat pra-socrates. Sebab, karakter pemikiran filsafat ini berbeda dengan pemikiran filsafat zaman Socrates dan berikutnya. Belakangan ini, tokoh-tokoh filsuf pra Socrates lebih dikenal dengan filsuf pertama atau filsuf alam.
Masa ini diwarnai pula oleh munculnya kaum sofisme. Kaum sofis ini muncul pertama kali di Athena. Sofis berasal dari kata sofhos yang berarti cendekiawan. Sebutan ini ditujukan kepada orang-orang yang ahli filsafat, ahli bahasa, dan lain-lain. Menurut kaum ini tidak ada kebenaran yang berlaku secara universal, kebenaran hanya berlaku secara individual. Dalam sejarah, kaum sofis adalah kelompok yang pertama kali mengorganisasi pendidikan untuk orang muda.
Kaum ini memberikan dampak positif bagi bangsa Yunani dalam pengembangan kebahasaan dan menyebabkan munculnya revolusi intelektual di Yunani. Gaya bahasa dan membangun fondasi untuk pendidikan sistematis bagi kaum muda dan mengambil manusia sebagai objek dari pemikiran filsafat, di samping mempersiapkan kelahiran filsafat baru yang baru direalisasikan Socrates, Plato, dan Aristoteles.[8]
Tokoh-tokoh filsafat kategori filsafat alam yaitu Thales (624-545 SM) yang berpendapat bahwa kenyataan yang terdalam adalah satu substansi yaitu air. Anaximander (610-546 SM) berkeyakinan bahwa yang merupakan kenyataan terdalam adalah to apeiron, yaitu suatu yang tanpa batas, tidak dapat ditentukan dan tidak memiliki persamaan dengan salah satu benda yang ada dalam dunia.
Anaximenes (585-528 SM) berkeyakinan bahwa yang merupakan unsur kenyataan yang sedalam-dalamnya adalah udara. Sedangkan, menurut Phythagoras, arche itu maksudnya bilangan, sementara Heraklitos arche itu api, ia juga berpendapat bahwa segala sesuatu itu terus mengalir (panta rhei). Berbeda lagi dengan Parmenides, bagi filsuf ini segala sesuatu itu tetap tidak bergerak bukan sebagaimana yang diasumsikan oleh banyak filsuf lain.
Filosof lain yang berperan dalam perkembangan masa pra-socrates adalah Xenophanes (580-470 SM). Ia adalah tokoh agamawan yang saleh dan taat beragama. Menurutnya, segala sesuatu yang ada di dalam semesta ini berasal dari Tuhan Yang Maha Esa yang memelihara alam semesta.  Namun Xenophanes disini tidak terlalu cenderung menghasilkan karya, tetapi lebih ke dalam penyampaian secara lisan.
Selanjutnya Parmenides (540-475 SM) yang merupakan murid dari Xenophanes. Beliau memiliki pendapat mengenai filsafat ada. Pernyataannya adalah mustahil bahwa “yang ada” itu tidak ada, dan bahwa “yang tidak ada” itu ada. “Yang tidak ada justru tidak ada” dan yang tidak ada itu mustahil dapat dibicarakan dan dipikirkan. Yang dapat dibicarakan dan dipikirkan adalah ‘yang ada”.
Tokoh selanjutnya adalah Heraklitos (535-480 SM) yang menyatakan bahwa kehidupan berasal dari api. Menurutnya segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti berubah. Sesuatu ini semua adalah menjadi. Demikian juga dengan segala sesuatu dari yang tidak ada adalah menjadi ada.
Pendapat Parmenides ini mendapat dukungan dari muridnya sendiri yaitu Zeno (+490 SM). Ia mengatakan bahwa jika keterangan orang yang membantah dinyatakan salah, maka pendirian gurunya benar dengan sendirinya. Ia mempertahankan benar kesatuan ada ini dan mengingkari benar gerak.
Pada waktu sesudah para filsuf ini ditempatkan pada sebuah pilihan yang sangat sulit. Apakah kenyataan sesuatu yang “ada” itu tak berubah, atau berada dalam gejala-gejala yang terus menerus berubah. Semua ahli pikir ditempatkan diantara Parmenides dan Socrates, dengan dua pilihan tadi. Para ahli pikir itu adalah Empedocles, Democritos, dan Anaxagoras.
Membahas Empedocles (492-432 SM) yang menyatakan bahwa ia setuju dengan pendapat Parmenides, bahwa di dalam alam semesta ini tiada sesuatu pun yang dilahirkan sebagai hal yang baru dan dibinasakan sehingga tiada lagi. Tetapi di sisi lain ia menentang pendapat Parmenides yang beranggapan bahwa kesaksian indera adalah palsu.
Empedocles kemudian dikenal dengan teori pengenalan dan pengetahuan yang didasarkan atas hukum penggabungan tersebut. Hukum ini digambarkan seperti ini: Karena anasir tanah yang ada pada manusia itulah maka manusia mengenal tanah, dan karena anasir air itulah manusia mengenal air.
Pendapat Empedocles ini didukung oleh filusuf dari negeri Athena yaitu Anaxagoras (499–428 SM), ia adalah orang pertama yang mengenalkan filsafat di negeri Athena. Perbedaan yang terdapat di dalamnya hanya jumlah anasir itu tidak hanya empat. Melainkan jumlah anasir itu tidak terbilang. Ajaran Anaxagoras berkaitan dengan adanya ruh. Ia menyatakan bahwa ruh merupakan sesuatu yang terhalus dan tersempurna. Ruh memiliki sifat tak terbatas dan mandiri serta tak tercampur apa pun sehingga dapat dikatakan bahwa ruh adalah sumber gerak atau kekuatan pengendali segala sesuatu yang hidup.
Filosof selanjutnya ini adalah Democritos (460-370 SM) yang mengajarkan bahwa kenyataan bukan hanya satu saja, melainkan terdiri dari banyak unsur. Unsur-unsur itu ia sebut sebagai atomos “tak terbagi”. Kemudian Democritos juga mengatakan bahwa pengetahuan dibedakan menjadi dua yaitu pengetahuan yang sebenarnya dan pengetahuan yang tidak sebenarnya. Adapun pengetahuan yang tidak sebenarnya adalah penglihatan, penciuman, dan rasa.
Banyak filosof alam yang sudah berpendapat dengan pemikiran-pemikiran di atas. Mereka memikirkan mengenai arche (asal muasal segala sesuatu). Tetapi masih saja hal ini belum terjawab dengan tuntas karena masih saja ada problem yang tersisa. Hal ini dapat kita lihat dari konflik pemikiran Heraklitos dan Parmenides yang mana pendapat keduanya ini saling bertolak belakang mengenai arche. Apakah sesuatu itu memang ada atau hakikatnya tidak ada kemudian menjadi ada. Adapula pengetahuan indera dan pengetahuan budi yang juga masih belum terselesaikan.
Dalam masa filosof alam atau filosof pertama ini tentu masih sederhana dalam pemikirannya yang lebih condong dalam pembahasan mengenai arche. Tetapi ia memiliki kemajuan yang lebih pesat dalam menyelesaikan sesuatu dengan menggunakan filsafat. Masa ini akan berlanjut ke masa keemasan yang akan menjawab permasalahan yang ada pada zaman sebelumnya (filosof alam).
C.           Masa Keemasan
Masa ini terlahir filosof-filosof terkenal dan hebat seperti Socrates, Plato, Aritsoteles. Ketiga filosof ini sangat berkembang dan eksis pada zaman keemasan ini. Mereka mampu menjawab permasalahan yang tersisa atau menyempurnakan dari sesuatu yang masih menjadi pertanyaan melalui pemikiran-pemikiran yang sangat rasional. Pemikiran mereka yaitu:
1.        Socrates (470 – 399 SM)
Ia merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles. Pemikirannya lebih diberikan mengenai manusia sebagai objek filsafatnya. Socrates dalam pemikirannya selalu berusaha untuk menyelidik manusia secara keseluruhan baik yang ruhaniah ataupun jasmaniah.
Sumbangsih Scocrates yang terpenting dalam pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya yang dikenal sebagai metode elenchos. Metode ini banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena inilah ia dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral.
Pemikirannya tentu dipengaruhi bagaimana kesehariannya dan dalam keahliannya. Socrates yang seorang pengajar tentu mempengaruhi setiap pemikirannya dalam menyikapi suatu permasalahan. Ia selalu dikenal sebagai orang yang jujur dan berwawasan luas. Percaya akan kebaikan, sehingga ia dikenal dengan pepatahnya “kenalilah dirimu”.
Pemikirannya tidak hanya mengenai moral yang baik saja tetapi juga politik. Pemikiran politiknya berawal dari Yunani Kuno. Pikiran Yunani yang sistematis menyelidiki watak dan jalannya institusi politik.
Doktrin politik Socrates bahwa “kebijakan adalah pengetahuan” merupakan dasar pemikiran politiknya mengenai negara. Inilah satu pandangan politik Socrates yang amat penting dan seharusnya memang harus ada dalam sebuah urusan kepemimpinan yang ada di dunia. Pendapatnya ini berpengaruh pada pemikiran muridnya setelah ini.[9]
Mengenai pemikirannya yang lain, Socrates juga menyebutkan bahwa terdapat prinsip-prinsip moralitas yang tidak berubah dan universal yang terdapat pada hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang beragam di berbagai belahan dunia ini.
Akhir hayat dari filosof besar ini sangat menyedihkan yaitu ajarannya yang berbeda dari pandangan masyarakat Yunani. Ia menyebutkan bahwa sebenarnya hanya ada satu gaya yang menggerakan dunia ini, berbeda halnya dengan pemikiran masyarakat yang percaya akan kuil (oracle) dari dewa-dewa.
Dengan pemikirannya yang berbeda ini menyebabkan ia dituduh telah merusak akhlak dan kemudian dipenjara. Di dalam tempat itu ia diberikan tawaran untuk bunuh diri dengan meminum racun. Murid-murid Socrates yang ada di dalam ruangan tersebut dan menjadi hakim, penjaga penjara, tantara, telah meminta Socrates untuk melarikan diri. Tetapi ia menolak, karena jika ia melarikan diri maka segala sesuatu yang ia ajarkan adalah salah dan lebih baik mati tetapi ajarannya akan terus hidup.
2.        Plato (427-347 SM)
Plato adalah murid dari Socrates, dan guru dari Aristoteles. Menurutnya dunia fana ini tidak lain hanya refleksi atau bayangan dari dunia yang ideal. Dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan warna-warni. Semua adalah bayangan dari dunia idea.
Ia dikenal dengan gagasannya mengenai ide. Karenanya, dunia pengalaman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah tiruanyang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea sana (dunia idea). Menurutnya dunia pengalaman adalah pancaran dunia ide.
Mengenai Tuhan, Plato mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah bagi manusia yang tidak pantas apabila mengetahuinya yaitu:[10]
a.          Manusia itu mempunyai Tuhan sebagai penciptanya.
b.         Tuhan mengetahui segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia
c.          Tuhanlah yang menjadikan alam ini dari tidak mempunyai peraturan menjadi memiliki peraturan.
Pemikiran Plato memang dipengaruhi oleh filsuf sebelumnya. Ia juga merupakan murid Socrates yang sangat giat dan cerdas. Sudah banyak buku yang ia ciptakan dan karya-karya serta pemikiran yang masih ada hingga sekarang.
Pemikiran Plato juga tidak hanya mengenai Tuhan tetapi juga mengenai politik. Hingga politikus Indonesia pun menjadikan Plato sebagai kiblat dalam ranahnya berpolitik. Contohnya seperti Amien Rais dengan high politics-nya serta Haryatmoko melalui bukunya Etika Politik dan Kekuasaan (2003), ternyata Plato sudah mengungkapkan mengenai hal tersebut beberapa abad lalu.
Menurut Plato dalam tiap-tiap negara segala golongan dan orang-orang di dalamnya adalah alat semata-mata untuk kesejahteraan semuanya. Kesejahteraan semuanya itulah yang menjadi tujuan yang sebenarnya dan itu pulalah yang menentukan nilai pembagian pekerjaan.
Plato dengan Socrates disini masih sepemahaman. Mereka sangat menghargai dan memegang teguh nilai moral. Hubungan antara Plato dan Socrates disini sangat baik dan berkesinambungan. Memegang erat nilai kebaikan sehingga melahirkan nilai-nilai kebaikan.
3.        Aristoteles ( 384-322 SM )
Aristoteles adalah murid Plato. Kecerdasannya sangat luar biasa sehingga ia hampir menguasai berbagai ilmu yang berkembang pada masanya. Kecenderungan berpikir saintifik tampak dari pandangan-pandangan filsafatnya yang sistematis dan banyak menggunakan metode empiris.
Pemikiran Aristoteles disini berbeda dengan Plato yang menganggap bahwa dunia pengalaman adalah cerminan dari idea. Plato juga hanya membahas tentang persoalan kontrakdiktif antara tetap dan menjadi. Namun Aristoteles menganggap bahwa tidak hanya itu saja, tetapi banyak bentuknya. Dan juga dunia realitas yang sesungguhnya. Itulah sebabnya Aristoteles lebih dikenal dengan realisme.
Walaupun posisi Aristoteles disini sebagai murid dari Plato tetapi ajarannya banyak yang tidak sepaham. Bahkan Aristoteles juga menolak paham tentang idea. Menurutnya idea adalah sesuatu yang tidak tetap dan memahami bahwa nilai baik dari satu idea itu saja sudah sangat mempengaruhi bagaimana sikap seseorang.
Mengenai filsafatnya dalam berpolitik ia mengatakan bahwa kita harus memikirkan bukan saja hanya bentuk pemerintahan apa yang terbaik, namun juga apa yang mungkin dan paling mudah dicapai oleh semua.
Tugas utama negara menurutnya adalah menyelenggarakan kepentingan umum, yaitu sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama. Karena itu bentuk pemerintahan yang benar adalah bentuk-bentuk ketika penguasa yang satu, yang sedikit, dan yang banyak itu, memerintah dengan memerhatikan kepentingan umum.
Pemikiran Plato dan Aristoteles ini merupakan sebuah fakta adanya kemajuan filsafat yang membuat para pemikir dunia Barat pada zamannya sangat tertarik untuk mengkaji lebih dalam. Hubungan antara guru dan murid yang sama-sama kritis disimbolkan sebagai bumi dan langit.
Kedua pemikir besar ini tidak saling bermusuhan dan dikenal tetap sebagai filusuf besar yang saling melengkapi. Perbedaannya hanya pada pemikiran, sementara sebagai murid ia tetap hormat kepada sang guru yaitu Plato.
Pada masa keemasan ini kita dapat melihat bahwa ketiga tokoh besar ini sangat menghargai moral yang baik dan juga pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks. Tidak hanya membahas mengenai asal mula sesuatu saja tetapi sudah mulai membahas mengenai hakikat jiwa dan ruh manusia, mereka sudah mulai menggunakan objek manusia dalam berfilsafat.
Politik juga menjadi objek dalam filsafat pada masa ini. Dengan melihat beberapa objek yang sudah ada setelah filsafat alam, tentu filsafat tahun ini lebih berkembang. Hubungan antara guru dan murid yang saling melengkapi dalam berpendapat menjadikan filsafat lebih mendalam dan banyak objek kajiannya.[11]
D.           Filsafat Abad Pertengahan
Filsafat abad pertengahan sering disebut dengan filsafat skolastik (476-1492 M). pada masa ini filsafat berada pada titik rendah dan kegelapan. Manusia dibelenggu oleh aturan gereja. Mereka tidak lagi bebas dalam memberikan pendapat dan mengembangkan potensinya. Apalagi jika terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan agama ajaran gereja. Siapapun yang mengemukakan hal demikian akan dihukumi berat.
Dalam abad ini pihak gereja menolak jika ada yang akan menyelidiki agama dengan manggunakan rasionya. Dapat digambarkan bahwa corak pada abad pertengahan yaitu:
1.        Cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja.
2.        Berfilsafat di dalam lingkungan yang diajarkan Aristoteles.
3.        Berfilsafat dengan pertolongan agustinus.
Secara garis besar filsafat abad pertengahan ini dibagi menjadi dua yaitu periode skolastik Islam dan periode skolastik Kristen. Pada masa skolastik Islam, pemikiran filsafat sudah dimulai sejak abad ke VII Masehi, dan berkembang pesat saat Daulah Abbasiyah di Baghdad (750-1258 M) dan Daulah Amawiyah di Spanyol (755-7492 M).
1.        Filsafat Skolastik Islam
Ada empat masa dalam skolastik Islam yaitu periode kalam pertama yang ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok mutakalim atau aliran-aliran dalam ilmu kalam seperti Khawarij, Syiah, Murjiah, Qadariyah, Jabariyah, Mu’tazilah, dan Ahlu Sunnah.
Dalam kaitannya dengan filsafat aliran yang paling menonjol ini adalah aliran Mu’tazilah. Dalam aliran ini menyatakan bahwa adanya keesaan Tuhan, kebebasan kehendak, keadilan Tuhan, posisi tengah, amar ma’ruf nahi munkar.
Periode filsafat pertama yang dikembangkan oleh al-Kindi (806-873 M), al-Razi (865-925 M), al-Farabi (870-950 M), dan Ibnu Sina (980-1037 M). Periode filsafat pertama ini melahirkan periode kalam kedua dan filsafat kedua. Periode kalam kedua ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh kalam penting dan besar pengaruhnya seperti al-Asy’ari dan al-Ghazali. Asy’ari yang terkenal dengan aliran Asy’ariyah dan al-Ghazali yang terkenal dengan bukunya Tafahut al-Falasifah.[12]
Periode ini terus berlanjut hingga menuju ke periode filsafat dua yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh filsafat Islam yang ternama seperti Ibnu Bajjah (1100-1138 M), Ibnu Tufail (1185 M), dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M). Pada masa Ibnu Rusyd, ia menunjukkan sikap pembelaan terhadap filsafat dan para filsuf atas serangan-serangan al-Ghazali. Sampai pada abad ke-12 orang Barat masih belum mengenal filsafat Aristoteles secara keseluruhan.
Kemudian skolastik Islam membawakan perkembangan filsafat di Barat. Berkat tulisan dari filusuf Islam, orang barat menjadi kenal terhadap Aristoteles dan menganggap bahwa Aristoteles dan Plato ada keterkaitan dalam al-Qur’an. Sehingga dari yang anggapannya dulu Aristoteles adalah salah karena penduduk Barat belum mengenal menjadi ada sesuatu yang berubah menjadi lebih baik, yaitu Aristoteles adalah benar, Plato dan al-Qur’an adalah benar.
Periode selanjutnya adalah periode kebangkitan, periode ini disebut dengan kebangkitan karena setelah mengalami kemerosotan, agama Islam kembali bangkit dan berpikir lebih dalam (berfilsafat) kembali. Gerakan pembaharuan yang tokohnya Jalaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Muhammad Iqbal.
2.        Filsafat Skolastik Kristen
a.         Masa Skolastik Awal
Pada masa ini, filsafat sudah agak mengalami kemajuan dan kebangkitan. Ilmu-ilmu pengetahuan sudah bisa dimasukkan ke sekolah-sekolah walaupun belum keseluruhan. Pada masa ini didukung oleh beberapa tkoh yaitu Anselmus (1033-1109 M) yang menyatakan bahwa rasio dapat digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan.  
b.        Masa Skolastik Keemasan
Pada masa awal dahulu filsafat bertumpu pada alam pikiran dan karya-karya kristiani. Tetapi sejak pertengahan abad ke-12 filusuf Islam, kemudian munculah masa ini yang merupakan masa keemasan dimana muncul universitas-universitas dan ilmu pengetahuan. Mengapa hal ini dapat terjadi tentu menjadi pertanyaan yang sangat wajar jika masa sebelumnya filsafat mengalami masa suram kemudian menjadi maju dan berkembang, beberapa alasannya yaitu:
1)        Adanya pengaruh dari beberapa ilmuwan Barat dan Islam yang menyebabkan pengetahuan menjadi berkembang. Seperti Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina.
2)        Tahun 1200 M didirikan Universitas Almamater di Perancis. Universitas ini gabungan dari beberapa sekolah. Universitas inilah yang menjadi cikal bakal universitas di Paris, Oxford, Cambridge, dan lain-lainnya.
3)        Berdirinya ordo-ordo karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan sehingga tentu akan memberikan sebuah cahaya mengenai pentingnya dalam berkembangnya ilmu pengetahuan.

c.         Masa Skolastik Akhir
Pada Masa ini filsafat Barat mengalami stagnasi dalam berfikir. Namun masih ada pemikiran yang muncul yaitu mengenai tiga cara mengenal yaitu lewat indera, akal, dan intuisi. Tokoh yang mengembangkannya yaitu Nicolus Cusanus (1401-1404 M). Sintesis ini mengarah ke masa depan dan pemikirannya ini tersirat suatu pemikiran para humanis.
3.        Masa Skolastik Thomas Aquinas (1255-1274)
Puncak tradisi pemikiran-pemikiran skolastik adalah pada masa Thomas Aquinas yang merupakan penganut Plato dan Aristoteles. Walaupun demikian, ia lebih condong kepada Aristoteles dan dikenal sebagai pemikir empiris.
E.            Filsafat Modern
1.        Filsafat Renaissance
Pada masa ini filsafat lahir kembali. Tokoh-tokohnya yaitu Niccolo Machiavelli (1469-1527). Ia terkenal dengan caranya menyampaikan filsafat secara blak-blakan. Misalnya saja ketika berfilsafat mengenai politik ia mengatakan bahwa penguasa yang masih ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya, ia harus menggunakan tipu  muslihat, licik dan dusta. Digabung dengan kekejaman penggunaan kekuatan. Walaupun seringkali filsafatnya ini mengalami kontroversi, namun sebenarnya memangada tujuannya yaitu untuk mencapai sesuatu yang diinginkan tersebut dengan menghalalkan segala cara.
Francis Bacon adalah salah satu tokoh filsafat modern yang terkenal dengan induksi modern dan menjadi pelopor dan menjadi pelopor yang mensistimatisasi secara logis prosedur ilmiah, seluruh filsafatnya bersifat praktis. Untuk menjadikan manusia menguasai kekuatan-kekuatan alam dengan perantara penemuan-penemuan ilmiah. Menurutnya tujuan ilmu adalah penguasaan manusia terhadap alam.

2.        Filsafat Modern
Pada zaman filsafat ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan berasal dari manusia itu sendiri, dari akalnya kemudian lahirlah sebuah ilmu pengetahuan. Ini berbanding terbalik dengan empirisme yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan lahir dari adanya pengalaman.
Tokoh-tokoh di dalamnya adalah Rene Descartes (1596-1650 M) ia menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan berasal dari pikiran, disinilah akan tercipta sebuah ilmu pengetahuan. Sehingga dapat dibagi menjadi tiga realitas yaitu realitas pikiran, realitas perluasan atau materi, dan Tuhan sebagai wujud yang sempurna.
Semua tokoh filsafat modern tidak berarti memiliki pemikiran yang sama, sesuai dengan zaman sebelumnya. Seperti John Locke yang menyatakan bahwa pernyataan Rene Descartes tidak sempurna. Jadi akal budi bukanlah segalanya dalam ilmu pengetahuan. Pengalaman masih berperan penting di dalamnya.[13]
Immanuel Kant juga ikut memberikan pendapatnya menganai sebuah ilmu pengetahuan, yang menurutnya mememang keduanya memiliki suatu bagian tersendiri, ia mengistilahkan sintetik-aposteriori, sesuatu yang dikatakan bahwa predikat belum tentu menjadi subjek. Ia hidup di jaman pencerahan dimana telah dipengaruhi oleh paham rasioanlisme yang sangat mengunggulkan akal atau rasio.[14]
F.            Filsafat Kontemporer
Masa ini adalah masa penyempurna dari masa-masa sebelumnya yang memiliki kekurangan. Dan pada masa ini filsafat lebih disempurnakan kembali. Kontemporer memiliki ciri khas adanya pemikiran yang pragmatis dari para tokohnya. Tokoh yang ada pada masa ini adalah William James, John Dewey, Michel Foucault, Karl R. Popper, dan Albert Camus.
Mengenai kebenaran pragmatis, etika, dan kepercayaan religious yang ditokohkan oleh John Dewey dan tokoh lainnya yang saling membicarakan mengenai etika dan kebenaran yang pragmatis. Kebenaran yang seharusnya memang harus terlihat oleh indera dan kenyataan yang ada.[15]
Tokoh yang terkenal pada masa ini adalah William James yang menamakan filsafatnya pragmatisme. Yang dimaksudkan dengan yang benar adalah mereka yang memang benar dengan menunjukkan sebuah aktualisasi atau praktek.
Memang mengenai pragmatisme sendiri terdapat kekurangan dan kelebihan yang ada dalam penerapannya. Kekuatan pragmatisme unuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menyusun sebuah pikiran yang liberal, dan membentuk sebuah pemikiran untuk tidak mudah percaya sebelum ada bukti yang nyata.[16] Kelemahan dari pragmatis adalah menciptakan pola pikir yang materialistik, sehingga manusia dituntut untuk melakukan sesuatu yang dapat dihargai dengan indera dengan melakukan berbagai cara.












BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Filsafat muncul dan berkembang pertama kali pada masa peradaban Yunani kuno. Pada masa ini peradaban Yunani kuno ingin melepaskan diri dari belenggu mitos, kepercayaan, dan khayalan yang menyebabkan mereka tidak menggunakan rasionya.
Kemudian pada abad 7 SM barulah mereka berani untuk menyelesaikan sebuah permasalahan dan menjawab pertanyaan yang ada dalam dirinya dengan menggunakan rasio atau akal. Disinilah sedikit demi sedikit peradaban Yunani mengalami masa yang mulai cerah dan berkembang sehingga mampu melahirkan filosof-filosof di masa setelahnya dengan pemikiran yang terus berkembang dan melengkapi.
Masa filsafat Yunani Kuno yang paling awal ditandai dengan adanya pemikiran mengenai alam (arche) yang mana mereka sudah mulai memikirkan bagaimana alam bisa tercipta dan ada sekarang ini. Pada masa ini tokoh yang ada di dalamnya yaitu Thales, Anaximander, Anaximenes, Phytaghoras, dan lainnya. Yang berfilsafat dengan menggunakan rasionya dengan berbagai macam pendapatnya. Setelah itu munculah zaman keemasan yang di pelopori oleh tiga tokoh besar yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Filsafat Abad pertengahan yaitu masa suram yang terjadi pada filsafat barat karena adanya belenggu aturan gereja yang berakibat adanya kebekuan dalam berfilsafat. Mereka dibatasi oleh aturan-aturan yang sangat mengganggu perkembangan dari pemikiran manusia pada zaman itu, sehingga pada abad ini ada tiga periode yang ada yaitu skolastik Islam, skolastik Kristen, dan skolastik Aquinas.
Setelah terjadi masa suram filsafat Yunani mulai ada pencerahan pada masa modern karena mereka telah terlepas dari aturan tersebut dan mulai menggunakan rasionalnya. Kemudian pada masa filsafat kontemporer ini adalah masa penyempurnaan dari masa-masa sebelumnya.
B.            Saran
Demikian pemakalah sampaikan makalah yang berisi tentang pembahasan mengenai sejarah filsafat. Besar harapan pemakalah dalam makalah ini dapat memberikan khasanah keilmuan, namun pemakalah yakin dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan pemakalah dalam memahami dan menelaah. Untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat pemakalah harapkan.















DAFTAR PUSTAKA
Abdul Latief, Juraid. Manusia, Filsafat, dan Sejarah. Jakarta: Bumi Aksara. 2006.
Abdullah Idi, dan  Jalaluddin. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2007.
Gholib, Achmad. Filsafat Islam. Jakarta: Faza Media. 2009.
Husaini, Adian. Filsafat Ilmu Prespektif Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani. 2013.
Juwariyah. Islam dan Filsafat Ilmu dalam Pengembangan Pendidikan. Yogyakarta:  Kependidikan Islam. 2004.
Maksum, Ali. Pengantar Filsafat. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media. 2011.
Muslih, Mohammed. Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar Yogyakarta. 2005.
Nurkhalis. Pemikiran Filsafat Islam menurut Mulla Sadra. Banda Aceh: Jurnal Substantia. 2011.
TIM MKD. Pengantar Filsafat. Surabaya: UINSA Press. 2016.


[1]Juraid Abdul Latief, Manusia, Filsafat, dan Sejarah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 41.
[2]Ali Maksum, Pengantar Filsafat, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011), 39.
[3]Maksum, Filsafat, 39.
[4]Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), 74.
[5]Maksum, Filsafat, 41.
[6]Maksum,  Filsafat, 41.
[7]Maksum,  Filsafat,  42.
[8]Nurkhalis, “Pemikiran Filsafat Islam menurut Mulla Sadra”, Jurnal Substantia Vol. 13 No. 2, Oktober 2011, 179.
[9] TIM MKD, Pengantar Filsafat, (Surabaya: UINSA Press, 2016), 47.
[10]Maksum,  Filsafat,  68.
[11]Maksum,  Filsafat,  95.
[12]Achmad Gholib, Filsafat Islam, (Jakarta: Faza Media, 2009), 34.
[13]Mohammed Muslih, Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta, Belukar Yogyakarta 2005), 57.
[14]Muslih, Kerangka Ilmu Pengetahuan, 54.
[15]Maksum, Filsafat, 197.
[16]Maksum, Filsafat, 207.

Comments